BE A SERVANT LEADER, BEHAVE LIKE A FAITHFUL CHALLENGER
JADILAH PELAYAN TUHAN YANG DEWASA, TETAPI TETAPLAH MELAYANI DENGAN HATI YANG TERUS MAU BERTUMBUH
Piala Dunia sepak bola selalu memberi kita banyak cerita. Banyak orang rela begadang, menunggu pertandingan yang baru mulai sekitar jam 2 atau jam 3 pagi. Kadang mata sudah berat, tetapi hati tetap penasaran. Karena di sepak bola, selalu ada kemungkinan yang tidak terduga.
Tim besar tidak selalu menang mudah.
Tim kecil tidak selalu menjadi pelengkap.
Kesebelasan yang dulu tidak diperhitungkan, tiba-tiba menjadi lawan yang sulit dikalahkan. Negara yang jumlah penduduknya kecil pun bisa tampil berani, disiplin, dan mengejutkan banyak orang. Sementara raksasa sepak bola yang pernah berjaya, kadang justru gagal tampil di panggung besar.
Di sinilah pelajarannya.
Kejayaan masa lalu tidak pernah menjamin keberhasilan di masa depan.
Nama besar tidak cukup. Sejarah panjang tidak cukup. Jumlah piala tidak cukup. Reputasi masa lalu tidak cukup. Jika sebuah tim berhenti belajar, berhenti berlatih, berhenti membangun regenerasi, dan mulai merasa terlalu aman, maka pelan-pelan tim itu akan tertinggal.
Kisah ini juga menjadi cermin bagi kehidupan bergereja.
Gereja GPIB Pasar Minggu adalah persekutuan umat Tuhan yang telah menerima begitu banyak anugerah. Ada sejarah pelayanan. Ada jemaat yang setia. Ada Pendeta, Penatua, Diaken, Pelayanan Kategorial, Komisi, penggiat pelayanan, dan relawan yang selama ini bekerja melayani dengan kasih.
Ada ibadah yang terus berjalan. Ada pelayanan pastoral. Ada pelayanan anak, teruna, pemuda, perempuan, bapak, warga senior, keluarga, musik, multimedia, perkunjungan, diakonia, pembinaan, dan berbagai bentuk pelayanan lain yang menjadi denyut hidup gereja.
Semua itu patut disyukuri.
Tetapi rasa syukur tidak boleh berubah menjadi rasa nyaman yang membuat kita berhenti bergerak.

Gereja yang sudah lama berdiri, gereja yang memiliki banyak pengalaman, gereja yang memiliki struktur pelayanan lengkap, tetap perlu bertanya dengan jujur.
Apakah pelayanan kita masih menyentuh kebutuhan nyata jemaat?
Apakah generasi muda merasa dirangkul dan diberi ruang untuk bertumbuh?
Apakah anak-anak mengenal gereja sebagai rumah rohani yang hangat?
Apakah keluarga-keluarga muda merasa ditemani dalam pergumulan hidup mereka?
Apakah warga senior merasa tetap dihargai dan diperhatikan?
Apakah para pelayan bekerja dalam satu gerak, atau masih berjalan sendiri-sendiri?
Apakah Pendeta, Penatua, dan Diaken sudah sungguh berjalan bergandengan, saling menopang, dan saling menguatkan?
Apakah Pelayanan Kategorial, Komisi, penggiat pelayanan, dan relawan sudah menjadi bagian dari gerak bersama, bukan sekadar pelaksana kegiatan?

Pertanyaan-pertanyaan ini penting.
Karena gereja bukan hanya dipanggil untuk mengulang kegiatan. Gereja dipanggil untuk melayani umat Tuhan, membina iman, merawat persekutuan, menghadirkan kasih Kristus, dan mempersiapkan generasi berikutnya.
Kadang sebuah gereja bisa tenggelam dalam rutinitasnya sendiri. Ibadah berjalan, rapat berjalan, program berjalan, laporan dibuat, kegiatan terlaksana. Dari luar semua terlihat baik.
Tetapi pelayanan yang hidup tidak cukup hanya dengan kegiatan yang berjalan.
Pelayanan yang hidup perlu hati yang menyala. Perlu kepekaan. Perlu kesatuan. Perlu kerendahan hati. Perlu regenerasi. Perlu keberanian berubah. Perlu kesediaan mendengar suara jemaat. Perlu kesediaan menata ulang cara melayani agar tetap relevan bagi masa kini dan masa depan.
Kita mengenal istilah champion syndrome.
Ketika seseorang atau sebuah tim merasa sudah berhasil, rasa lapar untuk belajar sering menurun. Ketika merasa sudah kuat, kewaspadaan bisa melemah. Ketika merasa sudah berpengalaman, masukan dari orang lain kadang terasa mengganggu. Ketika merasa semua sudah berjalan biasa, kita mulai berhenti bertanya apakah cara kita masih efektif.
Dalam pelayanan gereja, gejala ini juga bisa muncul.
Kita bisa merasa bahwa pelayanan sudah cukup karena dari tahun ke tahun bentuknya sama. Kita bisa merasa bahwa jemaat akan tetap datang karena gereja ini sudah lama berdiri. Kita bisa merasa bahwa anak-anak, teruna, dan pemuda akan tetap terhubung dengan gereja karena orang tua mereka ada di gereja.
Padahal generasi berganti.
Cara orang belajar berubah. Cara orang berelasi berubah. Pergumulan keluarga berubah. Tantangan anak muda berubah. Dunia digital mengubah cara orang menerima informasi. Ritme pekerjaan dan kehidupan jemaat juga berubah.
Karena itu, gereja perlu terus bertumbuh.
Bukan bertumbuh karena ingin terlihat hebat. Bukan bertumbuh karena ingin dibandingkan dengan gereja lain. Bukan bertumbuh karena ingin dipuji.

Gereja bertumbuh karena Kristus memanggil gereja untuk hidup, berbuah, dan setia.
Intinya sederhana.
Jadilah gereja yang dewasa, tetapi tetaplah melayani seperti seorang hamba yang terus mau belajar.
Jadilah persekutuan yang kuat, tetapi tetap rendah hati.
Jadilah gereja yang memiliki sejarah, tetapi jangan menjadi tawanan masa lalu.
Jadilah gereja yang tertata, tetapi jangan kehilangan kehangatan.
Jadilah gereja yang aktif, tetapi jangan lupa memeriksa apakah setiap aktivitas sungguh membangun iman jemaat.
Jika di depan kita tidak ada “lawan”, maka lawan terbesar kita adalah diri kita sendiri.
Lawan kita adalah rasa nyaman.
Lawan kita adalah ego pelayanan.
Lawan kita adalah cara kerja yang terkotak-kotak.
Lawan kita adalah komunikasi yang kurang terbuka.
Lawan kita adalah kebiasaan menunda regenerasi.
Lawan kita adalah pelayanan yang sibuk, tetapi kurang menyentuh hati jemaat.
Lawan kita adalah program yang berjalan, tetapi tidak selalu menghasilkan pertumbuhan rohani.
Maka kita perlu terus bertanya.
Apakah pelayanan tahun ini lebih menyatu daripada tahun lalu?
Apakah komunikasi antar pelayan lebih baik daripada sebelumnya?
Apakah koordinasi antar Presbiter, Pelayanan Kategorial, Komisi, pengurus, penggiat, dan relawan makin sehat?
Apakah semakin banyak jemaat terlibat, bukan hanya menjadi penonton?
Apakah anak muda mulai merasa dipercaya?
Apakah warga jemaat yang lama tetap merasa dihormati?
Apakah pelayanan kita makin mencerminkan kasih, kebenaran, dan kerendahan hati Kristus?

Dalam konteks GPIB Pasar Minggu, semangat faithful challenger berarti kita tidak puas hanya karena ibadah terselenggara. Kita juga bertanya.
Apakah umat Tuhan sungguh merasa digembalakan?
Apakah khotbah, liturgi, musik, dan persekutuan menolong jemaat makin dekat kepada Kristus?
Apakah pelayanan kategorial berjalan sebagai ruang pertumbuhan iman, bukan hanya agenda rutin?
Apakah komisi-komisi bekerja saling mendukung, bukan berjalan sendiri-sendiri?
Apakah relawan merasa dihargai, dibina, dan dilibatkan dengan jelas?
Apakah setiap rapat menghasilkan keputusan yang ditindaklanjuti?
Apakah setiap pelayanan punya arah, ukuran, dan buah yang terlihat?
Apakah gereja sedang menyiapkan pemimpin-pemimpin baru untuk masa depan?
Pelayanan gereja memerlukan kebersamaan.
Pendeta tidak berjalan sendiri.
Penatua tidak berjalan sendiri.
Diaken tidak berjalan sendiri.
Pelayanan Kategorial tidak berjalan sendiri.
Komisi tidak berjalan sendiri.
Penggiat pelayanan dan relawan tidak berjalan sendiri.
Semua adalah bagian dari tubuh Kristus. Setiap orang punya fungsi. Setiap orang punya panggilan. Setiap orang perlu saling menghormati. Tidak ada pelayanan yang terlalu kecil jika dilakukan untuk Tuhan. Tidak ada jabatan pelayanan yang menjadi alasan untuk merasa lebih tinggi daripada yang lain.
Kita melayani Kepala Gereja yang sama, yaitu Tuhan Yesus Kristus.
Maka gerak pelayanan harus berjalan bergandengan. Satu hati. Satu arah. Satu kasih. Satu komitmen.
Terus, secara konkret, apa yang bisa kita lakukan bersama?

1. Focus on God’s people
Selalu perhatikan umat Tuhan yang dipercayakan kepada gereja ini.
Lihat, dengar, amati, dan pahami kebutuhan jemaat. Jangan hanya menunggu jemaat datang. Jangan hanya menilai pelayanan dari banyaknya kegiatan. Jangan hanya mengukur keberhasilan dari ramainya acara.
Dengarkan pergumulan keluarga. Dengarkan anak muda. Dengarkan warga senior. Dengarkan pelayan yang lelah. Dengarkan relawan yang bekerja di belakang layar. Dengarkan jemaat yang jarang bicara. Dengarkan juga mereka yang mulai menjauh.
Gereja yang sehat bukan hanya pandai berbicara. Gereja yang sehat juga pandai mendengar.
Umat Tuhan membutuhkan firman, penggembalaan, persekutuan, pembinaan, teladan, dan kehangatan. Mereka membutuhkan gereja sebagai rumah rohani yang membangun iman, bukan sekadar tempat menghadiri acara.
Karena itu, setiap pelayanan perlu kembali kepada pertanyaan utama.
Apakah ini menolong jemaat makin mengenal Kristus?
Apakah ini membangun iman?
Apakah ini merawat persekutuan?
Apakah ini memperkuat kasih dan pelayanan?
Apakah ini menyiapkan generasi berikutnya?
2. Build holy urgency
Pelayanan gereja memang bukan perlombaan duniawi. Tetapi pelayanan tetap membutuhkan sense of urgency yang kudus.
Kita tidak boleh menunggu generasi muda menjauh baru bicara regenerasi.
Kita tidak boleh menunggu pelayan kelelahan baru bicara pembagian tugas.
Kita tidak boleh menunggu konflik muncul baru bicara komunikasi.
Kita tidak boleh menunggu jemaat merasa tidak diperhatikan baru bicara penggembalaan.
Kita tidak boleh menunggu pelayanan melemah baru bicara pembinaan.
Kita perlu bergerak sebelum masalah menjadi besar.
Bangun kewaspadaan yang sehat. Bukan rasa takut yang membuat kita saling curiga. Bukan kepanikan yang membuat pelayanan menjadi tegang. Tetapi kesadaran rohani bahwa waktu pelayanan kita terbatas dan tanggung jawab kita besar.
Setiap generasi hanya punya satu kesempatan untuk setia pada zamannya.
GPIB Pasar Minggu perlu menyiapkan diri menyambut masa depan. Gereja ini perlu terus menjadi rumah rohani bagi anak-anak, teruna, pemuda, keluarga muda, warga dewasa, dan warga senior.
Semua harus merasa menjadi bagian dari tubuh Kristus.

3. Build a servant and challenger mindset
Bangun mentalitas pelayan yang rendah hati dan terus mau bertumbuh.
Seorang pelayan Tuhan tidak boleh cepat merasa selesai. Tidak boleh merasa paling tahu. Tidak boleh merasa bahwa jabatan pelayanan membuatnya tidak perlu belajar lagi.
Pendeta, Penatua, Diaken, pengurus Pelayanan Kategorial, pengurus Komisi, penggiat pelayanan, dan relawan perlu memelihara sikap yang sama.
Kita semua murid Kristus.
Kita semua sedang belajar setia.
Kita semua perlu saling menegur dalam kasih, saling menguatkan, dan saling melengkapi.
Challenger mindset dalam gereja bukan berarti bersaing. Challenger mindset berarti berani menantang diri sendiri agar lebih setia, lebih peka, lebih rendah hati, lebih rapi dalam pelayanan, lebih hangat dalam relasi, dan lebih sungguh-sungguh membangun umat.
Tanyakan secara berkala.
Apa yang perlu kita perbaiki?
Siapa yang belum terlayani?
Generasi mana yang perlu diberi ruang lebih besar?
Pelayanan mana yang perlu disegarkan?
Komunikasi mana yang perlu dibuat lebih jelas?
Relawan mana yang perlu didampingi?
Pemimpin baru mana yang perlu disiapkan?
Mentalitas seperti ini membuat gereja tetap hidup.
4. Make a shared ministry plan
Buat rencana pelayanan bersama. Jangan hanya membuat program masing-masing bidang tanpa keterhubungan.
Pendeta, Penatua, Diaken, Pelayanan Kategorial, Komisi, dan penggiat pelayanan perlu duduk bersama untuk melihat arah besar gereja.
Apa tema besar pelayanan tahun ini?
Apa kebutuhan utama jemaat?
Apa prioritas pembinaan iman?
Apa fokus regenerasi?
Apa agenda yang perlu disinergikan?
Apa kegiatan yang sebaiknya digabung agar lebih efektif?
Apa pelayanan yang perlu diperkuat karena menyentuh kebutuhan nyata jemaat?
Rencana pelayanan tidak harus rumit. Yang penting jelas, realistis, dan dilaksanakan bersama.
Di dalam gereja, perbaikan kecil punya dampak besar.
Satu forum koordinasi yang lebih teratur dapat mengurangi salah paham.
Satu kalender pelayanan bersama dapat mengurangi benturan kegiatan.
Satu pola komunikasi yang rapi dapat mempercepat keputusan.
Satu sistem pembinaan relawan dapat membuat penggiat pelayanan merasa dihargai.
Satu ruang bagi anak muda untuk ikut merancang pelayanan dapat membuka jalan regenerasi.
Satu kebiasaan mendoakan pelayanan bersama dapat mengubah suasana hati pelayanan.
Pelayanan yang kuat tidak lahir dari banyaknya kegiatan. Pelayanan yang kuat lahir dari arah yang jelas, hati yang bersatu, dan kesediaan untuk berjalan bersama.
5. Implement with faithful discipline
Setelah rencana dibuat, waktunya menjalankan dengan disiplin iman.
Banyak gereja punya rencana yang baik. Banyak rapat menghasilkan ide yang bagus. Tetapi pelayanan sering melemah karena tindak lanjut tidak jelas.
Disiplin pelayanan berarti setiap komitmen harus jelas.
Apa yang akan dilakukan?
Siapa yang bertanggung jawab?
Kapan selesai?
Siapa yang perlu dilibatkan?
Apa dukungan yang dibutuhkan?
Bagaimana hasilnya dievaluasi?
Apa buah rohani yang diharapkan?
Dalam pelayanan gereja, disiplin bukan tanda kekakuan. Disiplin adalah bentuk kesetiaan.
Liturgi yang dipersiapkan dengan baik adalah bentuk hormat kepada Tuhan.
Kunjungan yang ditindaklanjuti adalah bentuk kasih kepada jemaat.
Pembinaan yang terjadwal adalah bentuk tanggung jawab terhadap generasi berikutnya.
Rapat yang punya tindak lanjut adalah bentuk penghargaan terhadap waktu dan tenaga para pelayan.
Koordinasi yang rapi adalah bentuk kasih agar sesama pelayan tidak saling membebani.
Pelayanan yang setia memerlukan hati yang tulus dan tata kerja yang baik.
6. Appreciate and nurture faithful servants
Jangan lupa menghargai para pelayan yang setia.
Mereka yang datang lebih awal.
Mereka yang pulang lebih akhir.
Mereka yang menyiapkan ruang ibadah.
Mereka yang melatih paduan suara.
Mereka yang mendampingi anak-anak.
Mereka yang mengurus konsumsi.
Mereka yang mengatur multimedia.
Mereka yang melakukan perkunjungan.
Mereka yang melayani diakonia.
Mereka yang hadir dalam rapat.
Mereka yang bekerja diam-diam tanpa banyak terlihat.
Mereka yang berdoa, menopang, dan tetap setia meskipun tidak mendapat sorotan.
Orang-orang seperti ini adalah berkat bagi gereja.
Hargai mereka. Doakan mereka. Dengarkan mereka. Bina mereka. Libatkan mereka. Beri ruang untuk bertumbuh. Jadikan mereka teladan bagi generasi berikutnya.
Penghargaan dalam gereja tidak selalu berbentuk panggung besar. Kadang cukup dengan ucapan terima kasih yang tulus. Kadang cukup dengan sapaan. Kadang cukup dengan mendengar. Kadang cukup dengan memberi kepercayaan. Kadang cukup dengan memastikan mereka tidak melayani sendirian.
Pelayanan yang sehat tidak membakar habis pelayannya. Pelayanan yang sehat menumbuhkan pelayannya.
Maka, ingatlah.
Untuk terus menjadi gereja yang hidup dan bertumbuh, kita perlu tetap melayani dengan hati seorang hamba.
GPIB Pasar Minggu tidak dipanggil untuk hanya menjaga masa lalu. GPIB Pasar Minggu dipanggil untuk setia hari ini dan mempersiapkan masa depan.
Kita bersyukur atas sejarah pelayanan yang sudah Tuhan berikan. Tetapi kita juga harus berani bertanya.
Apa panggilan Tuhan bagi kita sekarang?
Generasi seperti apa yang sedang Tuhan percayakan kepada kita?
Pelayanan seperti apa yang perlu kita bangun bersama?
Warisan iman seperti apa yang akan kita tinggalkan bagi anak-anak, teruna, pemuda, dan keluarga-keluarga di gereja ini?
Jawabannya tidak bisa dikerjakan oleh satu orang saja.
Pendeta, Penatua, Diaken, Pelayanan Kategorial, Komisi, penggiat pelayanan, relawan, dan seluruh jemaat perlu berjalan bersama.
Bergandengan. Beriringan. Saling menopang. Saling mendengar. Saling menguatkan. Saling mendoakan.
Karena gereja bukan milik kita.
Gereja adalah milik Kristus.
Kepala Gereja adalah Tuhan Yesus Kristus.
Di bawah pimpinan-Nya, kita melayani. Di dalam kasih-Nya, kita bersatu. Di dalam kuasa Roh Kudus, kita bergerak. Dan oleh anugerah-Nya, GPIB Pasar Minggu akan terus bertumbuh, beregenerasi, dan menjadi berkat bagi umat Tuhan, masyarakat, dan generasi yang akan datang.
Salam pelayanan penuh kasih.
Tetap setia, tetap rendah hati, tetap bertumbuh dalam pimpinan Tuhan Yesus Kristus.
Penulis,
Dkn. Bowo Trahutomo Suharso
Majelis Jemaat GPIB Pasar Minggu Sektor 4 Kana